Thursday, March 29, 2012

Obsesi?


"Kenapa?"

"Liat deh dia ngetweet ini lho," aku menyodorkan BBku ke sahabatku.

Sahabatku tak berkomentar apa-apa lagi, tapi pandangannya yang sedemikian rupa cukup membuatku ingin bertanya, "kenapa melihatku seperti itu?"

"Ternyata kamu masih ya."

"Maksudnya?"

"Iya, kamu masih terobsesi dengannya."

Aku marah! "Siapa bilang aku terobsesi??" sifat temperamenku mulai memuncak.

"Benar kan? Apa coba namanya kalau bukan TEROBSESI kalau tidak baca Timelinenya setiap sejam sekali?"

Aku mencoba berdalih, "aku hanya..."

Temanku memotong, "Iya, kamu hanya TEROBSESI."

"Aku hanya sayang sama dia."

"Kamu tahu, bukti sayang terbesar yang bisa kamu tunjukkan adalah dengan mencoba melepaskannya menjalani hidupnya sendiri, tanpa harus ada kamu dalam hidupnya." Temanku mencoba meluruskan kembali pemikiranku.

Cukup dengan satu kalimat temanku itu, membuatku terjaga.
Sadar selama ini aku terlalu banyak, terlalu sering mencoba memaksakanku diriku masuk dalam lingkungannya.
Ini membuatku ngeri, menyaksikan diriku sendiri menjadi orang yang sakit.
Aku tidak mau lagi seperti ini.
Aku akan keluar dari hidupnya, lingkungannya, dan aku tidak akan membaca TLnya lagi.

At least I try to..

Yakinku



"Cobalah belajar mencintai yang lain.."

Cinta yang lama
diganti cinta baru

Semudah itu?

Layaknya menutup mata
dalam sedetik

Aku tidak semudah itu
melupakan

Aku bukan langit
yang dapat merubah pekatnya
mencari biru cerah

Aku..hanyalah aku

yang
mengandalkan kekuatan waktu

untuk belajar

memberikan cinta
kepada yang lain

Waktu
belum seia denganku

Buat apa
aku membohongi hatiku

Mungkin aku picik
tak ingin mencoba

Aku hanya mencoba
bertahan

dalam yakinku

Aku..hanyalah aku

yang memilih bertahan
dalam cinta yang ini